Hafalin qur’an dulu baru bukumu



“Ngapain ngapalin KUHAP, kalau hafalan Qur’anmu nol.” Ugkapan yang seketika itu menyadarkanku. Itu salah satu ucapan seorang dosenku, dosen mata kuliah hukum acara pidana. Setelah mendengarnya, wajahku yang tadinya serius jadi sedikit terkejut. 'Ngena banget', batinku. Ini bisa dikatakan sebagai bentuk sindiran yang membangun. Bukannya merasa tersakiti, tapi malah langung sadar. Kayak dibangunin pake disiram air kran. Terang seketika, meski sedikit basah. Sebenernya bukan sekedar ungkapannya yang mau dibahas saat ini, ini cuman pengantar aja sebelum klimaks. Jadi intinya, sudah hafalkan pada kitab suci kalian? Walau satu dua surat? Atau mungkin lebih?  Lalu bagaimana dengan bukumu? Apa kalian juga sudah mengafalkannya?


Jika ditelaah lagi, buku adalah pedoman bagi setiap pelajar, entah itu TK, SD, SMP, SMA, Mahasiswa bahkan para orang tua sekalipun. Namun melebihi itu semua, Estetika kitab suci  adalah suatu pegangan yang harus dipercayai seumur hidup, yang kemudian menjadi bekal sebelum akhirnya tiada. Kitab suci adalah buku petunjuk yang harus selalu dipercayai, maka membacanya adalah lebih bermakna apalagi bila menghafalnya sekaligus.

Membaca buku memang penting, seperti kata pepatah buku adalah jembatan ilmu. Tanpanya hidupmu akan terasa sulit, karena kebodohan selalu menyelimutimu. Tapi jika dibandingkan dengan kitab suci yang seyogyanya adalah pedoman hidupmu, mungkin tanpanya kau hanya akan tersesat di dunia yang hanya kaummu dan kaum selainmu berada. Melewati waktu tanpa tau kau berada ditempat yang benar atau tidak. Mungkin juga tanpa pedoman itu kau tak akan tau jalan yang harus kau lewati. Maka sebaiknya, bacalah Qur’anmu sebelum buku pelajaranmu. Agar kau tau ini pedomanku dan itu penuntunku, agar kau menyadari mana yang lebih utama bagimu. Hafalkanlah Qur’anmu sebelum menghafalkan buku pelajaranmu, agar memorimu mengingat selalu pada ciptaan-Nya dan pada ciptaan manusia lain sepertimu.

Ilmu yang abadi adalah yang bisa menyelamatlkanmu dari ganasnya api neraka, bukan ilmu yang hanya memberimu limpahan harta. Ilmu yang sejati adalah saat kau berfikir, bahwa tanpanya kau akan kehilangan semua hal penting yang telah kau perjuangkan selama hidupmu. Ilmumu akan bermakna jika kau menyalurkannya pada anak cucumu. Maka sebelum semua ilmu di dunia ini, carilah ilmu yang menurutmu bisa membantumu hingga akhir hayatmu serta bermanfaat bagi generasi penerusmu.

Maka biasakanlah membaca Al-Qur’an disetiap hal kecil yang kau lakukan. Bermain handphone tidak hanya sekedar bermain, atau mungkin melihat hal-hal yang tidak penting. Bukalah Kitab Suci Al-Qur’an dalam smartphonemu, atau jangan-jangan kalian juga belum memilikinya? Sadarlah, hidup hanya sementara, maka kefanaan yang kau miliki ini juga hanya sementara. Dibandingkan melakukan hal yang sia-sia. Mulai sekarang, berubahlah kawan, karena dunia abadi menunggu pertanggungjawabanmu kelak. Apa-apa yang kau lakukan untuk menghabiskan harimu di dunia yang fana, semua akan dipertanggungjawabkan. Karena itu, mulailah dari hal kecil yang menjadi candu bagimu. Karena dizaman millenial ini, semua yang dilakukan hanya butuh satu alat kecil bernama smartphone, yang menjadikan orang-orang lalai dan lupa tujuan sesungguhnya hidup didunia ini. semua terasa menyenangkan, hanya dengan melihat sesuatu yang tak bermanfaat bagimu kelak diakhirat.

Peganglah Kitab Suci ditangan kananmu, agar kau terbiasa membacanya terlebih dahulu. Kemudian peganglah bukumu ditangan kiri, agar kau tau harus seperti apa dirimu didunia yanng sementara ini. Bacalah, hafalkanlah, taatilah kitab ciptaan penciptamu. Bacalah, pahamilah, dan contoh buku pelajaranmu supaya hidupmu berjalan dengan tanpa penyesalan dikemudian hari.



Comments

  1. Keren, juz amaah aja belum hafal semua, haha. Ntar waktu sidang skripsi dites lagi TT. Klo bisa dua2nya hafal, hukum iya Alquran juga iya^^

    ReplyDelete
    Replies
    1. Wkwkwk semangat mbak xD. Iya sih itu yang terbaik emang, semoga bisa hafalin semuanya yah mbak :')

      Delete
  2. Konsepan ini memang benar
    Pepatah tua mengatakan orang berilmu akan liar bila tidak berqama, dan buta bila beragama tanpa berilmu.
    Sehingga untuk meciptakan Amal kebajikan yang berguna bagi sendi umat rahmatan lil alamin, maka "Iman dan Ilmu harus seimbang." sehingga keduanya mampu bersinergi dalam membentuk sebuah Amal shaleh. Sip mantap tulisanmu :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kesimpulannya, konsep Iman, Ilmu dan Amal yang baik harus ada dalam diri individu muslim :)

      Delete

Post a Comment

Popular posts from this blog

7 Cara Menghindari Manipulasi dalam Jual Beli Online

Tips Lifestyle Seorang Mahasiswi