Inikah kebenaran itu?
Benar
adalah suatu kata yang masih abstrak maknanya. Sesuatu yang dianggap benar
olehmu maka hal itu belum tentu benar bagi orang lain. Lalu bagaimana kebenaran
itu bisa disebut sebagai kebenaran yang sesungguhnya? Mari simak uraiannya
dibawah ini.
Dizaman
modern ini, seluruh informasi dapat disebarkan secara cepat dan merata. Menakala
sebuah berita disiarkan, maka saat itu juga hal tersebut pastinya akan
diketahui orang lainnya. Ini jugalah yang pada akhirnya terjadi pada sebuah
kebenaran. Sangat mudah menyebarkan apa yang kau anggap benar, memberitakannya secara
cepat dan dalam waktu singkat. Tapi tak ada yang menyadari bahwa kebenaran yang
kau anggap itu ternyata bukan hal yang sebenarnya terjadi.
Ingatkah
kalian kasus dari seorang Joya? Nama aslinya
M Alzahra, ia dituduh mencuri Alat
pengatur suara masjid? Dan ternyata beliau bukanlah pencuri. Hal yang sedari
awal dianggap benar oleh masyarakat setempat. Padahal dalam hukum positif kita
sendiri telah dikatakan bahwa seseorang tidak bisa dijatuhi hukuman sebelum
dinyatakan bersalah dengan bukti-bukti yang jelas. Lalu kenapa masyarakat
sekitar menjatuhi hukuman padanya tanpa mencari tahu kebenarannya? Bahwa yang
mereka anggap benar bisa dibuktikan menjadi sebuah kesalahan yang fatal. Itulah
tolak ukur kebenaran. Suatu hal bisa dikatakan benar bila tak ada bukti yang
mengatakan bahwa hal tersebut adalah sebuah kesalahan. Seseorang tak bisa
dikatakan bersalah sebelum bukti-bukti mengatakannya. Maka dari itu bukalah
akal kalian dan mulai berfikir semua hal adalah benar, kecuali hal-hal yang
telah terbukti salah.
Contoh
yang lebih ekstrem lagi. Siapa yang tak tau SetNov? Setya Novanto yang dituduh
KPK sebagai salah satu koruptor yang wajib dihukum. Bahwa kebenarannya, sampai
saat ini pun, dia masih belum benar-benar dijatuhi hukuman. Namuan masyarakat telah
mengecapnya sebagai pendosa. Ia salah dimata masyarakat apapun yang coba ia
buktikan. Padahal sesungguhnya, dimata hukum ia masihlah dianggap tidak
bersalah selama bukti yang dibawa oleh jaksa penuntut tak dapat membuktikannya.
Maka manalah kebenaran yang sekarang kau yakini? Apakah setya novanto memang
koruptor? Lalu bagaimana jika ia bukan? Apa kalian akan dengan suka hati
menghilangkan cap pendosa dari pandangan kalian terhadapnya? Pernahkah sekali
saja kalian memikirkannya? Entah kenapa saya yakin jawabannya pasti TIDAK.
Maka
apakah itu kebenaran? Apa yang kau anggap baik itu sebuah kebenaran? Apa hal-hal
yang kau lihat diberita itu adalah keebenaran? Maka sadarila kebenaran yang
seperti itu hanya akan menyesatkan mata. Bukan apa yang dikatakan siapa itu
suatu kebenaran, tapi apa yang terbukti benar oleh alat bukti yang ada itu adalah
kebenaran.
Apakah
jika teman kalian mencontek pekerjaan rumah kalian itu suatu yang benar? Maka apakah
ia (temanmu) yang mencontek pekerjaanmu, juga berfikir bahwa dia melakukan hal
yang salah? Apa pernah kau berusaha membuktikan bahwa temanmu yang mencontek
itu salah? Kesebagian besar dari kalian pasti hanya mendiamkannya dan
membiarkannya berlalu, tapi apakah sikap yang seperti itu juga bisa dikatakan
benar? Maka dari itu ukurlah tingkat kebenaran yang kau percayai. Apakah hal
itu atau ini yang benar? Jawablah dengan membuktikan, apa ini salah atau tidak.
maka kebenaran sejati itu pasti akan muncul keberadaanya.
Bila
kalian mau sekali saja berusaha melihat kebenaran yang sesungguhnya terjadi,
bukan kebenaran yang kau ikuti dari orang lain yang menganggapnya benar. Maka
seorang seperti joya mungkin masih bisa melihat anak dan isterinya saat ini.



Bagus Yuz, pertahankan. Saran jika menyajikan data seperti contoh kasus Setnov, Joya lebih baik agak terperinci, terus penekanan aspek negatif yang harus kita hindari. Tetap semangat
ReplyDeleteSiap mbak. Sarannya bagus sekali :). Terimakasih
Delete