Sakitku karna uang


Bau anyir darah dan obat obatan bercampur menjadi satu. Suhu dingin menyapa kulit yang telah tertutup rapat. Mataku masih terpejam, namun pikiranku tetap terbangun. Obat bius ini lebih kuat dari yang kuduga. Aku sama sekali tak merasakan apapun. Padahal yang ku tau persis, pisau-pisau tajam tengah lihai membelah kulitku. Seluruh perasaan takut mulai menyelimutiku, apa aku bisa kembali dan melihat orang tuaku? Apa aku mampu melihat ibuku lagi? Apa aku bisa merasakan udara sejuk diluar kamarku? Aku ingin tau, apa semua itu mampu kulakukan setelah ini berakhir. Atau mungkin, aku akan kehilangan segalanya.

Lama waktu berselang, kurasakan seluruh tubuhku bergerak. Namun mataku tetap masih terpejam. Suhu ruangan menjadi lebih hangat. Aku bisa mendengar suara percakapan disekitaru. "Bagaimana keadaannya dokter?" itu ibuku, suaranya lirih dan sedikit bergetar. "Kami belum bisa memastikan, namun operasinya berjalan lancar. Mari menunggu lebih lama lagi." tak lama setelahnya terdengar suara pintu yang terbuka dan ditutup kembali. Kurasakan sebuah tangan menggenggap jariku. "Alysia, bagunlah sayang." lirih ibukku pelan. 'Aku ingin bu, aku ingin melihatmu.' batinku. Sebelumnya, telah kucoba berulang kali. Tapi entah karena apa, mataku sangat sulit membuka. Jangankan membuka, bergerak saja tidak. Apa mungkin ini pengaruh obat bius itu, tapi dokter bilang memang harus menunggu bukan. Aku yakin akan segera melihat ibu kembali. 

Sudah lama aku terbaring, mungkin sekitar satu bulan. Tak ada yang berbeda, aku masih terpejam. Tubuhku benar-benar mati rasa, aku sadar ini sudah bukan pengaruh obet bius atau lainnya. Ini karena aku tak bisa membuka mata. Otakku terus berusaha memerintahkan mataku terbuka. Namun tak ada yang terjadi. Sekarang baru kusadari, sesulit inikah hanya untuk membuaka mata. Ruangan ini selalu hening saat ibu tak ada. Aku sudah hafal, ini mungkin siang hari jadi ibu bekerja. Aku tak memiliki orang lain dikehidupanku selain ibu. Temanpun aku tak memilikinya. Sudah biasa sendirian membuatku meras nyaman.

Suara ganggang pintu yang diayun terdengar pelan. Ah itu pasti ibu, pikirku. Namun anehnya hanya suara langkah kaki kecil yang kudengar. Seperti bukan langkah kaki orang dewasa pada umumnya. "Kakak sedang tidur ya" seorang anak kecil rupanya. "Emh, karena kakak sedang tidur. Aku bolehkan sembunyi disini sebentar? Aku tidak ingin pulang hari ini." Dia terus bicara padaku meski dia tau benar kalau aku tertidur. Ah atau mungkin dia tau aku bisa mendenganya?

"Kakak bisa mendengarkukan?" Aku terkesima, dia sungguh mengetahuinya. "Aku juga pernah tidur seperti kakak dulu. Tapi hanya beberapa hari dan bukan dirumah sakit, tapi dirumahku." Aku tak tau kenapa dia terus bicara mengenai dirinya.

"Oh iya kak, perkenalkan namaku gita. Dulu kata ibu namaku gita karena ayah ingin jadi gitaris. Pada akhirnya malah aku yang diberi nama gita risa. Lucu sekalikan?" Rasanya aku ingin tertawa sungguhan karenanya, oh andai aku bisa. 

"Kakak enak yah, bisa tidur diruang yang bagus seperti ini. Aku jadi iri, habisnya aku bisa tidur diruang yang kasurnya keras seperti kayu. Kakak keasyikan tidur dikasur empuk, mangkannya tak bagun-bangun." kurasakan tangan kecilnya menggenggam tanganku. 

"Aku hanya bisa tidur dikasur yang keras dan lampu yang temaram mau padam karena ibu tak punya uang. Dulu aku sakit karena ibu tak bisa membelikan makanan yang layak untukku. Aku sangat membenci ibu karena itu. Dia selalu membawa makanan yang dibuang orang untuk kumakan. Tapi aku juga tau kalau ibu lebih menderita lagi daripada aku, jadi aku ingin mengurangi bebannya itu sekarang." gengaman tangannya mengendur.

"Aku bersembunyi karena paman berjaket hitam terus saja mengajakku pergi dari sini. Padahal aku tak ingin meninggalkan ibu, kakak taukan peasaanku? Aku ingin terus melihat ibukku. Tapi paman itu masih saja memaksa." Deg. Tiba-tiba aku terkesiap. 

"Kakak jangan tidur terus, bangunlah. Ibu kakak masih menunggu. Kakak tak mau kan kalau sampai paman itu juga mengajak kakak pergi? Sebaiknya kakak segera bangun dan membayar biaya rumah sakit yang mahal ini." Tangannya terlepas sekarang.

"Aku akan pergi dulu kak, kakak jangan sampai sakit lagi, meskipun kakak punya uang banyak. Kalau ada waktu, kakak bisa berbagi uang dengan teman temanku yang masih tidur. Agar mereka juga tidak dibawa paman jaket hitam pergi sepertiku." suara langkah kaki kecil terdengar lagi, anak itu berkata lirih. "Aku sakit karena uang, kakak punya uang jadi sehatlah. Aku pergi sekarang."

Air mataku jatuh entah kenapa. Tak ada lagi suara apapun yang kudengar. Genangan air mata ini tak bisa kuhentikan, padahal sebelumnya sulit sekali bahkan untuk membuat mataku basah. Tapi aku menangis sekarang. Perlahan, aku membuka mataku. Buram, semua yang kulihat masih buram.

THE END

Comments

Popular posts from this blog

Hafalin qur’an dulu baru bukumu

7 Cara Menghindari Manipulasi dalam Jual Beli Online

Tips Lifestyle Seorang Mahasiswi